Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi Memberi hormat Kepada Guru-Guru Seluruh Indonesia.

Seminar Nsional IGI Gresik

Seminar Nsional IGI Gresik, 15 Mei 2016 di Auditorium Universitas Muhamadiyah Gresik

Maulid Nabi

Maulid Nabi Muhammad SAW di SMA Negeri 1 Menganti Gresik

Kegiatan SAGUSATAB IGI GRESIK

Pelatihan Optimalisai Penggunaan TAB Samsung A8

Kegiatan SAGUSABU

Launching Buku Catatan Cinta Untuk Ibu di LPMP Jatim

Hari Guru Nasional

Foto Bersama Siswa Setelah Upacara Peringatan Hari Guru Nasional di SMAN 1 Menganti Gresik

Kemah Karakter Bangsa

Kemah Karakter Bangsa di Malang Jawa Timur

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Desember 2019

PENSIUN TETAP PRODUKTIF


Kita sudah terpola untuk berpikir ingin hidup tenang di hari tua, duduk-duduk tanpa beban, hanya bermain dengan cucu, jalan-jalan ke sana ke mari*

*Kita ingin hidup di zona nyaman....*
Atau kita hanya berpikir menghabiskan masa tua
*hanya dengan shalat dan membaca Quran dari waktu ke waktu, tanpa kegiatan lain..*

*Itulah mindset kita* *itulah Fenomena yang terjadi di sekitar kita...?!*

Ketika kita belum memasuki usia pensiun,
baru mendekati atau memasuki usia 40 tahun,
*kita kerap sudah merasa bukan saatnya untuk aktif...*

*Kita kehilangan gairah....*
Bahkan mungkin kehilangan arah:
mau apa....,
mau ke mana...,
untuk apa...?

*Hanya ingin hidup tenang di Zona Nyaman...*

Hanya ingin bersenang-senang, tak ingin bergerak..

*Kita bahkan cenderung hanya ingin memikirkan diri sendiri,*
*makin tak peduli....*
*Kita merasa sudah saatnya istirahat..!!*

Tapi...,
*adakah Islam mengajarkan pola pikir semacam itu tentang hari tua..?*

Ingatlah...,
*Rasulullah memulai hidup baru di usia 40 tahun*
Demikian pula sahabat-sahabat beliau, seperti
Abu Bakar Siddiq yang lebih muda 2 tahun enam bulan dibanding Rasulullah

*Di Usia itu,*
Rasulullah dan para sahabat memasuki perjuangan baru,
*meninggalkan kenyamanan yang selama ini mereka rasakan...*

Harta,
*mereka infaqkan..*
Martabat manusia
*mereka perjuangkan*
Bukannya bersantai dan stagnan,
*mereka makin Aktif dan Dinamis dalam dakwah....!!!*

Di usia tua Rasulullah
*tidak sibuk dengan shalat dan membaca Quran saja...!!!,*
Mulai usia *53 tahun* justru beliau makin aktif membina hubungan dengan sesama manusia. Beliau terus berdakwah dan membangun masyarakat madani (civil society) di Madinah.

*Tidak hanya hubungan dengan Allah, tapi juga hubungan dengan manusia*

Beliau makin bermasyarakat
*makin giat berdakwah & terlibat dalam kehidupan sosiaL*

*Artinya....,*
memasuki usia pensiun
*bukan alasan kita untuk melepaskan diri dari kehidupan sosial dan hanya sibuk dengan diri sendiri...*

Hingga akhir hayat, Rasulullah...
*tidak pernah diam dan tidak juga ingin beristirahat....*

Beliau juga tidak meninggal dalam keadaan kaya,
tidak dalam keadaan pensiun karena beliau tetap memimpin umatnya
*Pensiunnya beliau adalah kematian....*

Begitu juga sahabat-sahabat Rasulullah yang lain...
*Saya Pribadi belum pernah mendengar sahabat Rasulullah pensiun ketika Wafat*

Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, contohnya.
Bahkan Abu Ayyub al-Anshari brgkt  mnghadapi Byzantium pd usia *93 tahun.*
*Konsep pensiun yang umum dipahami masyarakat membuat kita lupa bahwa bertambah usia itu berarti kesempatan hidup kita makin berkurang.....!!!*

*Manusia SUKSES versi ISLAM itu menurut hadist adalah,*
*_“Manusia terbaik  di antaramu adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya...!!!_”*

*Bertambah usia...,*
*kita harus makin merambah dunia berbagi dan menjadi sosok bermanfaat,*
bukan berpikir untuk hidup santai dan sekadar menghabiskan waktu dengan hal-hal tak jelas...!

Lagipula,
makin pasif seseorang
*makin cepat pikunlah dia*.

AlhasiL.....,
*jika memang kita ingin mempersiapkan hari tua,*
selain menyiapkan “kesehatan dan materi”

*yang lebih penting adalah menyiapkan apa yang bisa kita lakukan..*
*dakwah harus lebih semangat agar kita bisa bermanfaat bagi sesama di hari tua,*
*sampai hari kita menutup mata...*

Tak ada kata terlambat untuk memulai hidup baru.
*Tua,*
bukan alasan untuk putus asa
Merasa tua dan berpikir bukan saatnya untuk hidup aktif dan dinamis
*sepertinya bukan pilihan yang tepat..!*

Justru,
kita harus lebih hidup dan bersemangat

*Tidak ada kata Pensiun untuk menjadi manusia SUKSES  di mata Allah.*

*Harta tidak kita bawa mati, hanya amal kebaikan kita yang bisa menemani....*

*Semoga Allah SWT slalu melindungi kita semua ...*
*Âamiîn Yâ Robbal Al-'âlamîn 🤲*

Sabtu, 22 Oktober 2016

IGI KOMUNITAS UNTUK BERBAGI


http//www.igi.or.id


  Pada November 2008 saya diajak mas Mohammad Ihsan (Sekjend IGI) mengikuti seminar dengan tema “Menuju Kebangkitan Guru Indonesia” dengan narasumber bapak Dr. Baedhowi (Dirjen PMPTK Departemen Pendidikan Nasional) dan Dr. Indradjati Sidi (mantan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah / ketua dewan pembina Klub Guru) di kantor TELKOM Ketintang Surabaya. Seminar ini ternyata diselenggarakan oleh “Klub Guru” yang sekarang berubah nama menjadi IGI (Ikatan Guru Indonesia), begitu berkenalan dengan Klub Guru saya langsung tertarik ikut bergabung dengan organisasi baru ini, apalagi saya melihat paparan program dari mas Ihsan yang sangat memukau. Kehadiran Klub Guru saat itu ibarat OASE di gurun, karena selama ini profesi guru sering dipandang sebagai profesi pilihan terakhir, sering dimarjinalkan dan dijadikan komoditas politik, sementara organisasi profesi yang ada belum mampu menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi para guru, ketika guru menghadapi masalah, seolah-olah tidak ada yang membela, sehingga guru harus berjuang sendiri-sendiri. Klub Guru (sekarang IGI) menjadi harapan saya dan mungkin banyak rekan guru yang lain, agar bisa memperjuangkan aspirasi para guru, sehingga profesi guru menjadi profesi yang terhormat, profesional dan sejahtera.
Nama Klub Guru saat itu menjadi nama yang asing, apalagi kalau saya menyampaikan kepada rekan-rekan seprofesi, bahkan ada yang berceloteh nama organisasi profesi guru kok seperti merk air mineral. Alhamdulillah akhirnya pada tanggal 26 November 2009.nama Klub Guru berubah menjadi Ikatan Guru Indonesia (IGI) berdasarkan SK Depkumham Nomor AHU-125.AH.01.06.Tahun 2009. Hal ini seolah menjadi angin  segar bagi pengurus dan anggota IGI, sehingga tidak ragu-ragu lagi dalam berkiprah dan sekaligus bersiap menjadi lokomotif penggerak perubahan bagi bangsa khususnya bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Dengan motto "Sharing and Growing Together", membuat saya lebih tertarik masuk IGI, saya berharap komunitas ini merupakan wadah yang tepat bagi siapa saja terutama para guru untuk berbagi dan mengembangkan kompetensinya, sehingga benar-benar menjadi guru yang profesional yang selalu dirindukan oleh para siswanya.
Awal masuk IGI saya sering terlibat dalam kepanitiaan seminar dan workshop yang diselenggarakan oleh IGI, setiap seminar dan workshop pesertanya selalu membludak, maklum saat itu para guru masih membutuhkan banyak sertifikat untuk kelengkapan portofolio sertifikasi guru. Saya juga pernah diminta memberikan training kepada para guru tentang pemanfaatan internet untuk pembelajaran, hasil kerjasama antara IGI dengan Telkom, program SAGUSALA (satu guru satu laptop) kerjasama antara IGI dengan Intel, gerakan sejuta  sepeda untuk sekolah, gerakan internet sehat dan masih banyak kegiatan-kegiatan lain yang diselenggaran oleh IGI yang selalu saya ikuti.
        Saya sangat terkesan dengan kegiatan-kegiatan yang dilaksankan oleh IGI disamping dapat ilmu baru, berbagi ilmu dengan rekan-rekan guru dari berbagai jenjang sekolah dan daerah lain, juga selalu melibatkan pihak sponsor, sehingga dari segi biaya tidak terlalu membebani para guru.

     Kepedulian IGI terhadap peningkatan kompetensi dan profesionalisme para guru sangat besar, hal ini sangat saya rasakan terutama dengan seringnya diadakan seminar, workshop, training, diklat dan yang luar biasa pada tanggal 6 – 9 Oktober 2016 mengadakan TOT literasi produktif berbasis IT di LPMP Jatim. Hal ini menunjukkan IGI semakin peduli terhadap peningkatan kompetensi guru  Namun demikian IGI juga harus menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan aspirasi dan nasib para guru, misalnya kesejahteraan, terutama rekan-rekan guru swasta yang gajinya masih banyak yang di bawah UMR, advokasi bagi para guru yang menghadapi masalah-masalah hukum dan masih banyak lagi bidang yang harus ditangani oleh IGI. Dengan semangat kebersamaan dan profesionalisme,  secara bersana-sama kita memajukan IGI, sehingga betul-betul menjadi organisasi profesi yang dapat menyuarakan dan mengayomi aspirasi para guru.
Berbahagialah menjadi guru. mempunyai orang tua guru, pasangan hidup kita guru, orang tua yang anaknya jadi guru, orang yang teman-temannya guru, mereka memang beruntung dan berbahagia. Siapa yang membekali murid untuk bekal hidup mereka di masa depan? Jawabnya adalah guru. Berapa banyak murid-murid yang telah dididik dan sukses? Jika ukurannya adalah kebermanfaatan untuk sesama, maka guru adalah manusia paling beruntung dan mulia.
Memang banyak organisasi profesi guru, tetapi saya lebih memilih IGI sebagai organisasi profesi, karena dalam wadah IGI peluang untuk berbagi, mengembangkan kompetensi serta menginspirasi banyak orang, agar kualitas diri kita sebagai guru lebih baik, lebih profesional dan lebih sukses terbuka lebar.
Menjadi guru, untuk apa? Saya berharap para guru   menjawab, ‘Untuk Investasi  Dunia dan Akhirat’. Siapakah mereka yang paham arti ‘Investasi untuk Dunia dan Akhirat’? Semoga saya, Anda, serta  mereka yang saat ini menjadi guru dan memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan senantiasa ikhlas dan mempunyai komitmen yang tinggi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang telah diamanahkan di dalam konstitusi kita.
Dengan dukungan Dirjen GTK Kemendikbud, P.T. Samsung Electronics Indonesia, Garuda Indonesia, LPMP Jatim dan semua pihak yang telah mendukung dan berkontribusi dalam kegiatan IGI, saya percaya IGI dimasa yang  akan datang semakin bersinar dan menjadi rujukan para guru yang ingin meningkatkan dan mengembangkan profesinya.